Minggu, 31 Agustus 2014

DEPRESI

Depresi adalah suatu keadaan menurunnya mood yang sering dihubungkan pada umumnya dengan kehilangan tenaga dan minat, perasaan bersalah, kesukaran berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, hilangnya kemampuan untuk ,merasakan pengalaman yang menyenangkan dan pikiran mengenai mati atau bunuh diri ( Kaplam & Sadock, 1988).
            Keadaan depresi untuk anak-anak berbeda dengan remaja, dewasa dan orang  usia lanjut. Anak remaja dan orang dewasa pada umumnya mengeluh tentang adanya perasaan sedih, tidak berharga, tidak ada harapan, atau merasa tidak berguna; sedangkan orang usia lanjut lebih banyakmenyatakan keluhan fisik seperti nyeri di dada, berat badan menurun, konstipasi, pusing, nyeri punggung, nyeri sendi, dan nyeri di tempat lainnya ( Cutler dan Narang, 1984 ).
            Perbedaan gambaran depresi juga terjadi karena adanya perbedaan budaya. Penderita yang berasal dari negara bukan Barat lebih banyak memperlihatkan gejala somati seperti badan lemah, nafsu makan berkurang, vitalitas melemah, perasaan rendah diri, sulit tidur, dsb ; sedangkan penderita dari negara Barat lebih banyak memperlihatkan gejala mood seperti perasaan berdosa, menurunnya harga diri, dsb. Dengan adanya perbedaan gambaran yang diperlihatkan akan tampak seolah-olah di negara-negara berkembang sedikit atau tidak ada penderita depresi, walaupun kenyataannya banyak didapatkan penderita depresi ( Murphy, 1982 ; Marsella, 1960). Beberapa kemungkinan gangguan depresi yang diperlihatkan  menunjukkan kesamaan dengan yang ditemukan di Barat, walaupun konsep depresi pada budaya Barat tidak ada pada budaya bukan Barat. Pengalaman depresi yang erat hubungannya dengan konteks budayanya, dapat diduga mempunyai perbedaan arti dan pengalaman dan mungkin bukan karena perbedaan label depresi. Dapatkah depresi dikatakan sebagai keadaan yang universal apabila gambaran yang diperlihatkan berbeda untuk suku bangsa yang berbeda? ( Marsella, 1980).
            Untuk dapat menangani penderita depresi dengan baik, diperlukan pemahaman mengenai penyebab dan diagnosis depresi yang erat hubungannya dengan terapinya. Dalam tulisan ini disajikan teori penyebab depresi, beberapa kriteria diagnostic depresi dan cara menangani penderita depresi, dengan harapan nantinya para dokter dapat menangani kasus ini lebih dini.

PENYEBAB DEPRESI
            Sampai sekarang penyebab depresi belum diketahui dengan pasti. Walaupun demikian, di bawah ini akan disampaikan tiga buah hipotesis, yaitu hipotesis biologic, psikologik, dan budaya.
1.     Hipotesis Biologik
Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan biologik pada penderita depresi, seperti penelitian pada neurotransmitter, fungsi regulasi sinap, metabolit neurotransmitter, dan fungsi reseptor, namun sampai sekarang belum ada hasil penelitian yang dapat digunakan sebagai kriteria diagnostik.
11  Neurotransmiter
Sejumlah pengukuran tidak langsung digunakan untuk menilai turnover neurotransmitter dan fungsi reseptor. Dalam usaha menentukan depresi sebagai suatu keadaan abnormal, peneliti klinik telah membandingkan nilainya pada penderita depresi dan control.
Asberg dkk (1976) menyatakan bahwa adanya penurunan jumlah 5-HIAA dalam cairan serebrospinal merupakan ramalan biokemikal dari perilaku bunuh diri.
Neurotransmiter norepinefrin dan serotonin banyak berhubungan dengan pengobatan antidepresiva yang lama didapatkan bahwa semua kemanjuran pengobatannya dihubungkan dengan penurunan secara lambat dalam sensitivitas beta-adrenergik pascasinap dan reseptor 5-hidroksitriptamin2 (5HT2). Perubahan pada reseptor yang terjadi lambat pada binatang percobaan berkorelasi dengan perbaikan klinis yang terjadi perlahan-lahan pada penderita depresi pada minggu ke-1 sampa ke-3. Hal ini konsisten dengan penurunan jumlah serotonin reuptake site dan peningkatan konsentrasi serotonin yang ditemukan pada postmortem dari otak penderita yang bunuh diri  yang telah mendapat pengobatan antidepresiva dalam jangka waktu lama. Juga dilaporkan adanya penurunan ikatan 3H-imipramine pada platelet darah dari beberapa individu depresi.
Beberapa data melaporkan bahwa terjadi penurunan aktivitas dopaminergik pada penderita depresi. Pengobatan dengan antidepresiva yang menggunakan peranan dopamine (DA) adalah : trisiklik antidepresan, MAOIs, dan terapi kejang listrik, akan mengurangi sensitivitas dari reseptor DA presinaptik. Perubahan ini menyebabkan meningkatnya pengeluaran DA presinap.
Dugaan lainnya adalah bahwa fungsi kolinergik meningkat pada penderita depresi. Walaupun banyak antidepresiva mempunyai efek samping antikoligernik, khasiat ini tidak ada hubungan dengan potensinya sebagai obat antidepresan. Karena adanya supersensitivitas reseptor kolinergik pada penderita depresi, dilakukan evaluasi penggunaan obat antikolinergik ( seperti triheksifenidil). Pada penelitian klinik menunjukkan bahwa obat ini berefek pada mood pada penderita Parkinson dan kalau salah memakain obat ini dapat menimbulkan euphoria.
12  Fungsi Regulasi pada Sinap
Penilaian aktivitas fungsional dari system neurotransmitter adalah mengukur transmitter turnover dan receptor sensitivity. Penilaian neurotransmitter turnover, misalnya konsentrasi metabolit dalam otak atau cairan serebrospinal yang merupakan refleksi dari sintesis neurotransmiter, pengeluaran (release), dan keadaan tidak aktif ( inactivation). Proses di dalam presinaps ini dipengaruhi oleh kemampuan prekursor dan panjang atau pendeknya feedback loops, serta peranan reseptor presinaptik sebagai critical role dalam mekanisme berikutnya. Fungsi pengeluaran (output) dari system neurotransmitter dipengaruhi oleh sensitivitas dari reseptor pasca sinap dan jumlah pasangan reseptor sebagai respon metabolic dalam saraf pascasinap.
13  Metabolit Neurotransmiter
Sejumlah penelitian melaporkan adanya abnormalitas dari metabolit biogenik amine ( seperti 5-HIAA, homovanilic acid (HVA), dan MHPG) dalam darah, urine, dan cairan serebrospinal pada penderita depresi.
Dalam penelitian klinik, pengukuran derajat metabolit dalam cairan lumbal serebrospinalis menghasilkan pengukuran langsung dari fungsi neurotransmitter di SSP. Pengukuran ini merupakan refleksi global dari aktivitas SSP, tetapi gagal menentukan lokalisasi perubahan anatomi dalam pengeluaran (release) neurotransmitter. Oleh karena itu, pengukuran beberapa metabolit dalam cairan lumbal serebrospinalis merupakan refleksi neurotransmitter turnover dalam medulla spinalis (misalnya 3-methoxy-4-hydroxyphenyl glycol (MHPG) yang merupakan metabolit NE dan 5-hydroxyindole acetic acid (5-HIAA) yang merupakan metabolit 5-HT). Dalam sepuluh tahun terakhir ini telah dilaporkan lebih dari 12 hasil penelitian CSF pada penderita depresi, tetapi hasilnya sedikit yang konsisten menyatakan penurunan kadar MHPG pada penderita depresi apabila dibandingkan dengan control. Hal ini mungkin disebabkan karena produksi MHPG dapat terjadi di perifer dan MHPG dapat masuk ke dalam CSF lewat plasma, sehingga kadar MHPG dapat meningkat di CSF sebagai akibat produksi perifer yang meningkat.
Dengan demikian, pengukuran NE dan metabolitnya dalam urine dapat memberikan petunjuk bahwa penurunan   NE turnover adalah merupakan respon farmakologik konsisten untuk suatu pengobatan antidepresiva. Perbandingan antara hasil deaminasi ke metabolit lainnya (MHPG ke normetanefrin) melengkapi indeks aktivitas monoamine oxidase (MAO) dan dalam klinik digunakan untuk memonitor pengobatan dengan MAO inhibitors (MAOIs).
14  Fungsi Reseptor
Penelitian sekarang lebih banyak mengarah kepada fungsi dari reseptor. Diduga bahwa depresi endogen terjadi karena reseptor pascasinap kurang sensitive untuk biogenic amin NE, DA, dan serotonin, sedangkan pada depresi psikogenik oleh karena ketegangan emosional yang lama menyebabkan depot presinap kekurangan biogenic amin (Kielholz et al, 1982).
2     Hipotesis Psikologik
Kebanyakan klinisi berpendapat bahwa ada hubungan yang erat antara kejadian-kejadian dalam hidup (life-events) dengan depresi.
Tidak ada tipe kepribadian tertentu yang dapat merupakan pencetus depresi. Namun bentuk kepribadian tertentu seperti tipe obsesi-kompulsif, histerikal lebih banyak didapatkan pada penderita depresi dibandingkan dengan kepribadian antisosial, paranoid dan tipe lainnya yang menggunakan mekanisme pertahanan projeksi.
Karl Abraham berpendapat bahwa manifestasi depresi dicetuskan oleh hilangnya objek libido, sehingga terjadi proses regresi, yaitu kemunduran    fungsi ego dari keadaan fungsi mature ke trauma infantile dari stadium oral sadistic dari perkembangan libido yang berpengaruh karena proses fiksasi pada masa awal anak-anak.
Teori structural dari Freud menyatakan bahwa introjeksi dari objek yang hilang    menimbulkan ambivalensi, sehingga ego kehilangan energy dan menimbulkan gejala depresi yang khas. Sedangkan super ego tidak mampu melawan kehilangan obyek luar dan melampiaskan hal ini pada ego sebagai introjeksi.
Pada binatang percobaan yang berulang-ulang  diberikan electris shocks dan ia tidak diberikan kesempatan untuk melarikan diri dari keadaan ini, akan terus memperlihatkan tidak ada usaha untuk melarikan diri pada shock berikutnya, walaupun kesempatan melarikan diri diberikan. Menurut teori belajar tidak berdaya (learned helplessness), depresi dapat diperbaiki apabila klinisi dapat membangkitkan penderita depresi mempunyai sense of control dan menguasai lingkungan. Terapi perilaku yang memberikan penghargaan dan dukungan yang positif merupakan usaha yang dapat diandalkan.
Sedangkan menurut teori kognitif, depresi timbul karena adanya misinterpretasi meliputi : distorsi negative   dari pengalaman hidup, penilaian diri yang negative, pesimistis, dan tidak ada harapan.
3    Hipotesis Budaya
Marsella (1980) mengajukan teori budaya berdasarkan atas konsep psikodinamika atau psikologi social. Teori ini berdasarkan atas : struktur keluarga, berkabung, penyesuaian kepribadian (conforming  personality), pertahanan psikologik, ekspresi agresi, dan kegagalan prestasi.
31  Struktur Keluarga
Stainbrook (1954) menyatakan bahwa depresi sedikit terjadi pada budaya bukan Barat karena struktur keluarga besar akan mengurangi frustasi pada permulaan hidupnya lewat multiple mothering (beberapa wanita ikut mengasuhnya) dan mengeneralisasi obyek-obyek yang menarik ke banyak anggota keluarga. Collomb (1967) menyatakan bahwa kurangnya depresi pada budaya bukan Barat oleh karena hubungan yang erat antara anak dan ibu dan periode yang lama membebaskan anak (tidak banyak larangan), yang dapat mengurangi perasaan tidak aman pada masa anak-anak dan ini merupakan keadaan yang dapat mencegah perkembangan kepribadian anak ke tipe depresi.
32  Conforming Personality
Arieti (1959) menduga bahwa depresi terjadi akibat pola mengasuh anak (child-rearing pattern) dan struktur keluarga yang mendorong perkembangan dari penyesuaian kepribadian. Depresi umumnya terjadi pada individu dari masyarakat tingkat tinggi oleh karena ia cenderung menyesuaikan dengan tekanan dari masyarakatnya dan orang tuanya.
33  Social Cohesion
Depresi mungkin berhubungan dengan derajat menyatunya dalam masyarakat. Menyatunya masyarakat menunjukkkan banyaknya anggota masyarakat memiliki orientasi nilai dan tingkat mereka adalah masyarakat atas. Di bawah kondisi ini, dapat diduga depresi terdapat lebih tinggi di antara wanita, anggota kelas masyarakat yang lebih tinggi, dan anggota kelompok social yang bersatu.
34  Pshycological Defenses
Rendahnya angka depresi pada budaya bukan Barat karena mereka sangat patuh pada sangsi masyarakat. Stainbrook (1954)  menyimpulkan bahwa budaya tertentu mungkin menyokong delusi kejar yang digunakan untuk mengurangi resiko rasa bersalah. Menurut Savage dan Prince (196&) penggunaan mekanisme projeksi menyebabkan rendahnya angka depresi pada suku Yoruba di Nigeria.
35  Upacara Berkabung (Mourning Rituals)
Kebanyakan upacara berkabung yang dilakukan pada budaya bukan Barat dapat mengurangi resiko depresi oleh karena orang yang dicintai yang meninggal dianggap tidak hilang, tetapi berpindah tempat. Ada juga yang berpendapat bahwa kematian adalah merupakan kebebasan dari beban hidup di dunia dan kesempatan untuk masuk surga.
36  Ekspresi Agresi

Budaya yang menyediakan penyaluran pengeluaran agresi akan mempunyai angka depresi yang rendah. Sedangkan masyarakat yang damai cenderung memperlihat angka depresi yang meningkat.

ABSTRAKSI LKTI

“Integrasi Yoga sebagai Fisioterapi Pencegahan Skoliosis”
ABSTRAKSI
 Anak Agung Istri Dewi, Made Bakti Sukma Dewi , Ni Wayan Galung Aryani, 2014, 30 halaman

Dewasa ini, gangguan atau kelainan tulang tidak hanya menyerang orang yang usianya di atas 30 tahun saja. Semua kalangan termasuk pelajar dapat mengalaminya. Salah satu penyebab utama yang mengakibatkan seseorang dapat mengalami gangguan atau kelainan tulang yaitu posisi duduk yang salah dan bisa berkembang menjadi penyakit tulang kronis seperti Skoliosis. Jaman sekarang siswa banyak yang enggan untuk melakukan olahraga, ini disebabkan antara lain karena tingkat kesibukan yang sangat tinggi dalam mengejar prestasinya di sekolah. Adapun cara yang dapat dilakukan untuk mencegah cedera sedini mungkin yang mengakibatkan kelainan tulang punggung karena posisi duduk yang salah yaitu melalui penerapan fisioterapi. Fisioterapi adalah suatu profesi di bidang kesehatan yang berkemampuan untuk merehabilitasi sistem gerak dan meningkatkan kemampuan fungsional serta kualitas hidup dengan terapi fisik baik manual maupun mekanis. Salah satu metode fisioterapi yang mudah dan sederhana yang dapat dilakukan sendiri  dengan menerapkan olahraga alternatif seperti yoga. Yoga merupakan teknik yang sangat efisien untuk mencegah cedera akibat postur duduk yang salah. Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke arah samping, yang dapat terjadi pada segmen servikal (leher), torakal (dada) maupun lumbal (pinggang). Dalam tingkat yang masih ringan, skoliosis seringkali tidak menimbulkan masalah, namun bila lengkungan ke samping itu terlalu parah, akan menyebabkan cacat bentuk tulang belakang yang cukup berat dan bisa mengganggu fungsi tubuh lainnya seperti jantung dan paru-paru. Skoliosis dapat diringankan dan bahkan disembuhkan dengan solusi medis yang melibatkan metode fisioterapi dan yoga tergantung pada tingkat keparahannya.

Yoga dan fisioterapi memiliki kesamaan yaitu sama-sama merupakan metode pengobatan tanpa menggunakan obat, memiliki kemampuan untuk merehabilitasi sistem gerak dan meningkatkan kemampuan fungsional serta kualitas hidup dengan terapi fisik baik manual maupun mekanis serta dipergunakan untuk mengatasi cedera maupun gangguan imunitas, sehingga yoga dan fisioterapi dapat diintegrasikan. Salah satu cara implementasi yoga sebagai fisioterapi pencegahan skoliosis adalah dengan kegiatan ektrakulikuer. Kegiatan ektrakurikuler memiliki nilai-nilai pendidikan bagi siswa dalam upaya pembinaan manusia seutuhnya. Dalam kegiatan ekstrakulikuler sebaiknya ekskul yoga menjadi salah satu ekskul yang diwajibkan di sekolah mengingat pentingnya yoga bagi remaja. Selain itu, yoga juga dapat dilakukan pada saat pelajaran olahraga atau penjaskes. Olahraga adalah suatu bentuk aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang dan ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani.


Kata Kunci : fisioterapi, skoliosis, yoga.